Perjuangan Difabel Melawan Ketidakadilan Transportasi di Makassar

Perjuangan Difabel Melawan Ketidakadilan Transportasi di Makassar

K
Kamsah

Penulis

Jam sibuk di Makassar seperti mimpi buruk. Pagi antara pukul 06.00 hingga 08.00 dan sore pukul 15.00 hingga 19.00, kendaraan menumpuk di jalan. Dari Bontonompo ke Menara Bosowa, misalnya, Syarif butuh setidaknya 2,5 jam untuk sampai. Padahal, jika jalan lengang, satu jam saja cukup.

“Kadang saya berpikir, kenapa harus begini? Kenapa tidak ada solusi?” tanyanya lirih.

Ia tak sendiri. Banyak penyandang disabilitas menghadapi hal serupa. Tak ada transportasi yang benar-benar bisa diandalkan. Tak ada kepastian apakah mereka bisa sampai tujuan dengan aman dan nyaman.

Syarif tak berharap banyak. Ia hanya ingin transportasi publik yang inklusif, sistem yang terintegrasi, dan kebijakan yang berpihak pada semua orang, bukan hanya mereka yang bisa berlari cepat.

“Yang pertama harus dilakukan pemerintah adalah membuat transportasi yang bisa digunakan semua kalangan,” tegasnya.

Baca Juga

Ia ingat saat pertama kali layanan transportasi online masuk Makassar. Murah dan praktis.

Tapi kini, kendaraan pribadi dan ojek online justru memperparah kemacetan.

“Saya pakai transportasi umum kalau memungkinkan. Saya ingin memberi contoh, kalau sistemnya baik, pasti kita semua mau pakai,” katanya.

Namun, selama jalur transportasi masih tak ramah, selama pemerintah belum berbuat sesuatu, Syarif dan banyak difabel lainnya akan terus bertarung dengan waktu dan jalanan.

Mereka bukan meminta belas kasihan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.