Terkini.id, Makassar – Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lingkungan Hidup Universitas Hasanuddin (Unhas), Imran, menyarankan pemerintah untuk melokalisir sampah di TPA.
Pasalnya, gas metan yang terdapat dalam tumpukan sampah memungkinkan sampah di sana untuk terbakar kembali.
Ia mengatakan, kemarau berkepanjangan yang terjadi di Kota Makassar membuat air tanah di TPA turun. Sehingga, kata dia, gas metan yang ada di sana bakal terproduksi dengan baik.
“Sehingga bisa saja api di atas tumpukan sampah tampak padam, namun di dasar sampah masih memproduksi api,” kata dia, Selasa, 17 September 2019.
Imran mengatakan, pemerintah harus membongkar tumpukan sampah di TPA untuk mencari titik produksi gas metan. Gas metan ini, kata dia, harus cepat dikeluarkan supaya cepat habis dan penanganannya pun juga mesti cepat.
“Saran saya lokalisir dulu itu api, dengan menggali di sekitar TPA, supaya tidak merambat. Yang harus dilakukan adalah membuka TPA supaya banyak keluarnya ini gas. Kalau dibiarkan, akan lama. Di atas mungkin padam, di bawahnya terbakar, karena masih ada gas metan dibawah,” jelasnya.
- Aliyah Mustika Ilham Tegaskan Komitmen Makassar Hadapi Perubahan Iklim di INVIROTECH 2026
- WALHI Soroti Debat Perdana Pilgub Sulsel: Lingkungan Hidup Hanya Sebatas Janji?
- SiCilik Tanam Mangrove, Edukasi Lingkungan Sejak Dini
- Ketidakpedulian Anggota DPRD Soppeng Terhadap Lingkungan: Perda Pengelolaan Sampah Terkatung-Katung
- Lomba Memilah Sampah dan Daur Ulang Dibanjiri Anak Sekolah
Ia menambahkan, kalau sampah digali, maka gas metan akan keluar kemana-mana. Sehingga gas metan yang terbakar itu adalah api kecil lantaran gas sudah keluar melalui samping galian.
Lantas, kata dia, dibuatkan parit khusus untuk mengalirkan gas metan tersebut. Efek yang ditimbulkan adalah api kecil, sehingga hal itu bisa teratasi dengan pemadaman menggunakan air.
“Digali disekitar sampah supaya cepat keluar, supaya cepat penanganannya dan padam. Kalau kita gali, gas metan akan keluar kemana-mana. Jadi buatkan parit supaya cepat keluar dari TPA. Setelah itu baru pemadaman pakai air,” tambahnya.
Gas metan ini sendiri berasal dari tumpukan limbah sampah. Sampah ini mengandung CH dan nitrogen yang jika beraksi membentuk CH4. CH4 ini yang namanya gas metan.
Imran menyatakan, saat ini, gas metan yang terbakar di TPA. Terlebih, kata dia, ditambah dengan sampah di TPA yang umumnya adalah sampah plastik sehingga menjadi sangat berbahaya jika terus dibiarkan.
“Jadi gas ini bisa dibilang sama seperti bensin. Ini yang terbakar. Ditambah sampahnya kan umumnya plastik mudah terbakar, karena saya pernah penelitian di sana,” ungkapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
