Masuk

Diduga Adanya Aliran Dana ACT dalam Parpol, Bareskrim Polri: Masih Pendalaman

Komentar

Terkini.id, JakartaBareskrim Polri masih dalami dugaan adanya aliran dana ACT dari atau ke Parpol. Terkait hal itu, Kombes Andri Sudarmaji menyampaikan dugaan tersebut masih pendalaman apakah ada dana mengalir atau dari partai politik, Jumat 29 Juli 2022.

Diduga adanya aliran dana Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari atau ke partai politik (parpol), penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tipideksus) Bareskrim Polri sementara mendalaminya.

“Masih pendalaman (apakah ada dana mengalir atau dari partai politik),” sebut Kasubdit IV Dit Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Andri Sudarmaji ketika dihubungi merdeka.com, Kamis 28 Juli 2022.

Baca Juga: Alumni Smansa Makassar Diberi Amanah Jabat Kapolda Kalsel oleh Kapolri

Sebelumnya, pada kasus itu sudah empat orang ditetapkan sebagai tersangka dugaan penyelewengan dana Boeing.

Diketahui, polisi sudah melakukan penyitaan atas kendaraan operasional milik ACT sebanyak 56 unit, diantaranya 44 mobil serta 12 motor. Kali ini, barang bukti itu telah ditempatkan di Gudang Wakaf Distribution Center (WDC), Global Wakaf Corpora.

Polisi menyatakan Ahyudin (A) dan Ibunu Khadjar (IK) sebagai tersangka kasus Yayasan ACT. Keduanya disebut dijatuhi pasal penggelapan.

Baca Juga: Polisi Usut Kasus Auto Trade Gold Terkait Dugaan tindak Pidana Penggelapan dan Pencucian Uang

Wadirtipideksus Bareskrim Polri Kombes Helfi Assegaf menyebut penetapan tersangka, pukul 15.50 Wib sore.

“Pada pukul 15.50 telah ditetapkan sebagai tersangka,” terang Helfi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Senin 25 Juli 2022.

Tidak hanya Ahyudin dan Ibnu Khadjar, tetapi Hariyana Hermain (HH) dan NIA juga termasuk ditetapkan sebagai tersangka.

Karopenmas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyampaikan HH adalah salah satu pembina ACT dan memiliki jabatan tinggi lain di ACT, hingga bagian keuangan.

Baca Juga: Usai Ditetapkan Jadi Tersangka, Putri Candrawathi Disebut Masih Jalani Wajib Lapor ke Bareskrim Seminggu Dua Kali

“Persangkaan pasal tindah pidana penggelapan dan atau penggelapan dalam jabatan tindak pidana informasi dan transaksi elektronik dan atau tindak pidana yayasan atau tindak pidana pencucian uang,” ujar Ramadhan dilansir dari merdeka.com.

Selain itu, penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tipideksus) Bareskrim Polri sudah menetapkan empat orang tersangka soal kasus dugaan penyelewengan dana ACT. Mereka dikenal dengan nama eks Petinggi ACT Ahyudin, Petinggi ACT Ibnu Khadjar, Hariyan Hermain (HH) dan Novariadi Imam Akbari (NIA).

Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan juga menyampaikan, para tersangka dikenakan Pasal Tindak Pidana Penggelapan Jabatan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Persangkaan pasal Tindak Pidana dan/atau Penggelapan dalam Jabatan dan/atau Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dan Tindak Pidana Informasi dan/atau Tindak Pidana Yayasan dan/atau, Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai mana dimaksud dalam pertama dalam Pasal 372 KUHP Dan 374 KUHP dan Pasal 45 A Ayat 1 Jo Pasal 28 ayat 1 UU 19 tahun 2019,” imbuhnya Ramadhan kepada wartawan, Senin 25 Juli 2022.

“Tentang perubahan UU 11 tahun 2008 tentang ITE, yang keempat Pasal 170 Jo Pasal UU 16 tahun 2001 sebagaiaman telah diubah UU Nomer 8 tahun 2004 tentang perubahan UU Nomer 16 tahun 2001 tentang yayasan. Kemudian yang kelima, Pasal 3,4,6 UU tahun 2010 tentang Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang dan yang terakhi UU Pasal 65 KUHP Jo Pasal 56 KUHP,” lanjutnya.

Kemudian, Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Helfi Assegaf mengatakan, para tersangka terancam hukuman penjara mencapai 20 tahun.

“Ancaman penjara untuk TPPU 20 tahun, dan penggelapan 4 tahun,” jelas Helfi.