Terkini.id, Jakarta – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah, Kementerian Dalam Negeri mengajak Pemerintah Daerah bersama penyelenggara pemilu di daerah untuk melakukan simulasi pelaksanaan tahapan pilkada.
Hal itu sebagai bentuk inovasi pendidikan pemilih persiapan tahapan pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 dengan protokol Covid-19.
Plt Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Dr. Bahtiar, M.Si mengatakan simulasi-simulasi dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.
Misalnya buat simulasi pelaksanaan kampanye terbatas dengan protokol.covid-19, simulasi pelaksanaan pencoblosan dengan protokol.covid -19 dan lain-lain.
“Dukungan nyata dan kesadaran masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan menjadi amat penting dalam pelaksanaan Pilkada Serentak,” ujar Bahtiar.
- Sulsel Capai Kerawanan Terendah Kedua, Pengamat Apresiasi Kepemimpinan Prof Zudan Redam Potensi Konflik
- Soal Kerawanan Pilkada Serentak, Danny Pomanto: Bergantung Media
- Demokrat Keluarkan Surat Tugas di 20 Daerah Pilkada Serentak di Sulsel
- Persiapan Pilkada, Komisi II DPR Soroti Kebutuhan Anggaran Hingga Indeks Kerawanan Pemilu di Sulsel
- Pilkada Serentak 27 November 2024, Ini Jadwal Tahapan Penyelenggaraannya
Menurut dia, dengan adanya simulasi tersebut maka pihak penyelenggara pemilu di tiap daerah, masyarakat dan juga unsur TNI dan Polri dapat mengantisipasi potensi kerumunan dan mengatur bagaimana pelaksanaan Pilkada yang aman bagi masyarakat dan aman bagi penyelenggara.
Bahtiar menjelaskan dengan adanya unsur keberagaman kondisi geografis dan tingkat kepadatan penduduk yang berbeda, budaya dan kebiasaan masyarakat yang berbeda pada 270 daerah yang akan melaksanakan Pilkada 2020, maka terbuka peluang adanya inovasi protokol kesehatan yang diterapkan oleh penyelenggara pemilu di daerah.
Dikatakan juga bahwa setelah berkonsultasi dan mendapat pertimbangan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 yang ada pada setiap provinsi dan kabupaten kota, untuk selanjutnya disesuaikan dengan kondisi obyektif daerahnya masing-masing.
“Kondisi obyektif berbeda di tiap daerah, ada yang padat penduduk, ada yang jarang penduduknya, tingkat suhu, cuaca dan iklim juga patut diperhitungkan sehingga pelaksanaan protokol kesehatan harus menyesuaikan daerah masing-masing,” tuturnya.
“Misalnya pemilihan tempat lokasi TPS yang mudah terkena sinar matahari, kita tahu bahwa Covidn-19 tak tahan dengan sinar ultra violet matahari sehingga bisa mengurangi resiko kesehatan,” tambahnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
