Ade Armando Minta MK Sahkan Pernikahan Beda Agama: Aturan yang Mencederai Hak-hak dalam Konstitusi Harus Ditinjau Ulang

Terkini.id, Jakarta – Akademisi, Ade Armando meminta kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk sahkan pernikahan beda agama.

Ade Armando menilai ada aturan yang mencederai hak-hak dalam konstitusi, sehingga perlu dilakukan peninjauan ulang, termasuk pernikahan beda agama.

Menurutnya, jika MK telah sahkan pernikahan beda agama, maka hak warga negara telah terpenuhi karena tidak ada lagi yang terpaksa pindah agama untuk melangsungkan pernikahan.

Baca Juga: Dokter Tifa Sentil Buzzer yang Merapat ke Anies: Besok Jangan-jangan...

Dia mendorong MK untuk segera mengabulkan permohonan Judical Review mengenai sejumlah pasal yang terdapat dalam UU perkawinan, sehingga dengan demikian, untuk yang ingin melaksanakan pernikahan beda agama tidak lagi diberatkan dengan aturan.

Dengan disahkannya UU pernikahan beda agama, maka menurut Ade tidak ada lagi warga negara yang dipaksa mengubah agamanya demi menikah, seperti praktik lazim yang terjadi di tengah masyarakat.

Baca Juga: Ade Armando Bela Anies Baswedan, Dokter Tifa: Kenapa Buzzer Merapat...

Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) ini percaya bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk menikahi siapa pun yang dicintainya tanpa harus mengorbankan agamanya.

Melangsungkan pernikahan dan memeluk agama seharusnya bukanlah dua hal yang saling meniadakan satu dengan yang lainnya”, kata Ade Armando, seperti dikutip dari kanal YouTube Gerakanpis dengan judul ‘PIS Minta MK Sahkan Pernikahan Beda Agama’, Jumat 24 Juni 2022.

Olehnya itu, dia meminta kepada pihak terkait untuk segera meninjau ulang aturan yang mencederai hak-hak dalam konstitusi.

Baca Juga: Ade Armando Bela Anies Baswedan, Dokter Tifa: Kenapa Buzzer Merapat...

“Karena itu, aturan yang mencederai hak-hak yang dijamin dalam konstitusi tersebut harus ditinjau ulang”, ujarnya menambahkan.

Tidak bisa dipungkiri, setiap individu bisa saja jatuh cinta dengan orang beda agama, kemungkinan pernikahan beda agama pun semakin besar untuk terjadi, mengingat Indonesia beragam agama dan suku.

“Mengapa kita tidak mau berempati bahwa bukan hal yang mudah bagi salah satu pihak yang ingin melangsungkan perkawinan beda agama untuk menundukkan diri terhadap agama pasangannya? Bukankah keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan harus berangkat dari kesadaran diri yang mendalam dan secara sukarela bukan paksaan eksternal?”, kata Ade Armando.

Dalam Islam, kata Ade, ada beberapa tafsiran mengenai pernikahan beda agama. Tidak bisa dipungkiri jika ada tafsiran yang membolehkan pernikahan beda agama. Pandangan ini juga merujuk pada ayat dalam Al-Quran dan pengalaman sejumlah sahabat Nabi Muhammad.

Karena ini, ada soal interpretasi kata Ade, maka sudah selayaknya UU Perkawinan mengakomodasi pasangan yang berpandangan perkawinan beda agama adalah perkara yang dibolehkan.

“Bagi mereka yang menganggap pernikahan beda agama dilarang sesuai keyakinannya, mereka dapat memilih untuk tidak menikah beda agama. Sebaliknya, bila ada yang menganggap pernikahan beda agama sah menurut keyakinannya, sepantasnya mereka dapat melaksanakan pernikahan”, ujarnya.

“Pernikahan adalah hak asasi dan merupakan perintab dari Allah SWT. Karenanya pelaksanaannya tidak boleh dilarang oleh siapa pun”, tandasnya.

Bagikan