Terkini.id, Jakarta – Belakangan ini sedang ramai diperbincangkan soal nama Soeharto yang hilang dari sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.
Hal ini berhubunga dengan ditetapkannya tanggal 1 Maret sebagai Hari Penegakan Kedaulatan oleh Presiden Jokowidodo.
Menanggapi polemik ini, Pegiat media sosial Monica mengatakan jika ada pihak yang berusaha meluruskan perkara ini, namun pada akhirnya menodai sejarah dikarenakan dendam yang masih disimpannya.
“Dasar kodok laganya mau meluruskan sejarah, tapi yg ada malah membuat sejarah ternoda oleh dendam kesumat”, tulis Monica, dikutip dari cuitannya di akun media sosial Twitter @NenkMonica, Jumat 4 Maret 2022.

Monica menilai, jika nama Soeharto seharusnya tetap dicantumkan dalam Keputusan Presiden (Kepres) yang sudah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo. Mengingat Soeharto memiliki peran yang sangat besar dan vital dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.
- Mahfud MD Tegaskan Perpol 10 2025 Adalah Pembangkangan Terhadap Konstitusi
- Mahfud MD Enggan Terima Honor Saat Jadi Khatib di Masjid Al-Markaz
- Lewat Pantun di Kampanye Ganjar, Butet Kartaredjasa Sindir Jokowi: Ini Banteng-Banteng yang Dilukai, Siapa yang Melukai?
- Cak Imin: Kalau jadi Wapres Ga Ada Gunanya Ya Mundur!
- Mahfud MD Akan Kirim Tim Untuk Investigasi Dugaan Intimidasi yang Diterima Melki
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang, Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan jika Kepres tidak menghilangkan nama Soeharto dalam SU 1 Maret 1949, dia mengatakan nama Soeharto tetap dicantumkan dalam naskah akademik Kepres.
“Berita dibawah ini tak tepat. Kepres tersebut bukan buku sejarah tapi penetapan atas 1 titik krusial sejarah. Kepres tsb tdk menghilangkan nama Soeharto dll dlm SU 1 Maret 1949. Nama dan peran Soeharto disebutkan di Naskah Akademik Kepres yg sumbernya komprehensif”, tulis Mahfud MD, dikutip dari cuitannya di akun media sosial Twitter miliknya, @mohmahfudmd, Jumat 4 Maret 2022.
Lebih lanjut, dia mengatakan jika nama-nama yang memiliki peranan penting dalam SU 1 Maret 1949 ditulis lengkap dalam naskah akademik, persis dengan naskah Proklamasi 1945.
“betul, di dlm konsederans ditulis nama HB IX, Soekarno, Hatta, Sudirman sbg penggagas dan penggerak. Peran Soeharto, Nasution, dll ditulis lengkap di Naskah Akademik. Sama dengan naskah Proklamasi 1945, hanya menyebut Soekarno-Hatta dari puluhan founding parents lainnya”, katanya lagi.
Mahfud menegaskan jika Keppres itu bukan buku sejarah , sehingga harus mencantumkan nama pihak-pihak yang terlibat dalam Serangan Umum 1 Mret 1949. Namun dia memastikan nama Soeharto tetap ada dalam sejarah peristiwa tersebut.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
