Taubat, Sekarang!

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

MEMASUKI hari sepuluh kedua Ramadan 1440 H ini, saatnya dibuka pintu taubat. Demikianlah bulan Ramadan dibagi dalam tiga bagian. Sepuluh pertama berupa rahmat, sepuluh kedua dibuka pintu taubat dan sepuluh ketiga dijanjikan akan dibebaskan dari neraka. Tahapan tersebut kelak mengantarkan “peziarah” Ramadan akan meraih tingkat ketaqwaan yang paripurna.

Memasukki fase taubat inilah menjadi renungan bagi setiap umat Islam untuk tidak melewatkannya. Kehadiran Ramadan membawa keberkahan berupa peluang bagi “pendosa” untuk mendapatkan pengampunan atas segala dosa dan kekhilafannya.

Betapa meruginya, setiap persona sekiranya melewatkannya tanpa yakin dosanya segera diampuni. Bertaubat bukan sebatas ucapan atau pengakuan, tetapi berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.

Karenanya di bulan Ramadan dalam fase pengampunan dosa ini, seharusnya setiap kita segera mengidentifikasi pelbagai dosa yang diperbuat, entah dalam skala kecil apalagi dosa besar, baik yang disengaja maupun semata karena khilaf.

Melalui proses identifikasi tersebut, setiap kita dalam menghitung secara cermat segala bentuk dan waktu dosa tersebut dilakukan.

Menarik untuk Anda:

Setelah mengetahui waktu dan bentuk dosa yang diperbuat, maka proses taubat dilakukan entah dalam doa-doa yang berisi pengakuan dan pengampunan dosa di hadapan Sang Khaliq yang Maha Pemaaf.

Sebaiknya dilakukan shalat sunat taubat kemudian diikuti taubat dan janji untuk tidak mengulangi di hadapan Allah Swt. Tentu akan terasa lebih khusyu sekiranya dilakukan di tengah malam seusai Tahajud menjelang sahur diiringi tetesan air mata di atas sajadah di keheningan malam di pertengahan Ramadan ini.

Terbayang betapa seorang hamba menjadikan Ramadan ini sebagai kesempatan terbaiknya untuk kembali pada fitrahnya. Nabi menegaskan bahwa setiap anak cucu Adam senantiasa melakukan kesalahan dan dosa, sebaik-baik pendosa adalah mengakui kesalahannya dengan bertaubat.

Rangkaian dosa dilakukan secara sistematis semisal, lalai menunaikan salat bahkan kadangkala dengan sengaja meninggalkannya. Makan makanan haram semisal menikmati ayam potong yang disembelih  tanpa atas nama Allah, Bismillah Allahuakbar.

Ayam yang dipotong tidak sesuai syariat Islam, maka itu bangkai dan haram. Makanan haram yang menjadi daging kelak api neraka yang membersihkannya, sekira tidak diterima taubatnya di dunia.

Dalam Alquran diperintahkan untuk bertaubat. Dalam surah At-Tahrim Allah menyerukan kepada hambaNya yang beriman untuk bertaubat dengan taubat nasuhah, taubat yang sebenar-benarnya diikuti janji tidak akan mengulanginya kembali.

Di surah lain, Allah menyeruh orang-orang beriman untuk bersegerah taubat, tanpa menunda-nundanya. Nabi penyadarkan umatnya bahwa manusia tempatnya salah dan sebaik-baik yang bersalah adalah mengaui kesalahannya dengan taubat serta menyakini taubatnya diampuni.

Demikian dijanjikan bahwa pada malam sepuluh kedua Ramadan ini menjadi momentum untuk segera bertaubat. Karenanya, sebelum terlambat, sejatinya kita semua segera bertaubat dengan taubat Nasuhah serta menghindari segala hal yang memungkinkan terjebak kembali. Bertaubatlah, sekarang !

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar