Pesantren Milik Herry Wirawan Belum Bisa Dibubarkan, Hakim : Subjek Hukum Adalah Perorangan Bukan Korporasi
Komentar

Pesantren Milik Herry Wirawan Belum Bisa Dibubarkan, Hakim : Subjek Hukum Adalah Perorangan Bukan Korporasi

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Meski tersangka pemerkosa 13 siswi, Herry Wirawan, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, namun yayasan pesantren miliknya tidak bisa dibubarkan, menurut Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung.

Ketua Majelis Hakim, Yohanes Purnomo mengatakan, pesantren tidak bisa dibubarkan karena merupakan landasan hukum. Oleh karena itu, Undang-Undang Yayasan juga mengatur tentang pembentukan dan pembubarannya.

Menurutnya, untuk pembubaran yayasan perlu dilakukan gugatan secara perdata dan bukan dengan pidana.

“Subjek hukum adalah perorangan bukan korporasi, sehingga dengan sendirinya pembubaran yayasan itu perlu dengan perdata dan bukan dengan pidananya,” ujarnya, seperti yang dikutip dari Kompastv. Rabu, 16 Februari 2022.

Seperti diketahui, terpidana Herry Wirawan memiliki yayasan bernama Manarul Huda yang berada di dua lokasi.

DPRD Kota Makassar 2023
Baca Juga

Rinciannya, pertama, Yayasan Yatim Piatu Manarul Huda yang berada di kawasan Antapani, Kota Bandung. Kedua, Pesantren Madani Boarding School yang berada di kawasan Cibiru, Kota Bandung.
Diperlukan tindakan hukum perdata untuk membubarkan atau membekukan yayasan, menurut Hakim.

Kantor kejaksaan harus mengambil tindakan ini, menurut hakim, untuk alasan yang ditunjukkan dalam surat dakwaan.

“Perampasan tersebut tidak bisa dilakukan, karena yayasan itu memiliki badan hukum, sehingga pelelangan dan perampasan aset itu baru bisa dilakukan setelah yayasan tersebut dibubarkan secara perdata,” ucap hakim.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, menilai Herry Wirawan memanfaatkan yayasan tersebut sebagai alat kejahatan untuk memperkosa puluhan korbannya.

JPU meminta agar hakim membubarkan atau membekukan pesantren sebagai aset yang akan disita dan dilelang, dan hasilnya akan diberikan kepada para korban.

Meski belum dikabulkan, Asep menyebut bakal mempertimbangkan langkah perdata untuk dapat menyita aset Herry.

“Saya menganggap bahwa hakim tadi menyarankan agar gugatan pembubaran yayasan itu menggunakan mekanisme perdata, itu akan kami pertimbangan,” kata Asep usai menghadiri sidang vonis Herry.

Adapun majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Herry Wirawan. Hakim menilai tidak ada hal yang meringankan hukuman Herry.

Perbuatannya dinyatakan bersalah sesuai dengan Pasal 81 ayat 1, ayat 3 dan ayat 5 jo Pasal 76D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.